PERMATA DARI DESA
Hari yang cukup cerah, matahari tersenyum dari balik celah awan pagi, sementara kicau burung bersenandung merdu dari balik ranting pohon dan rimbun dedaunan.Suasana di desa kecil yang jauh dari keramaian kota itu selalu dihiasi dengan panorama alam yang indah.Gemercik air sugai, gunung yang membentang di sebelah barat desa melukiskan pemandangan hijau yang alami. Dan disinilah Santi, gadis cantik yang sederhana itu dilahirkan.
Santi adalah anak yang terlahir dari keluarga yang tidak mampu. Ibunya hanya bekerja sebagai tukang batu di sungai. Sementara ayahnya sudah meninggal sejak 3 tahun yang lalu karena sakit keras. Santi mempunyai satu orang kakak laki-laki dan dua orang adik perempuan. Namun, kakaknya semenjak 7 tahun yang lalu menderita lumpuh.Sungguh sangat memperihatinkan kondisi keluaraga Santi.
Santi anak yang baik, sederhana,sabar,jujur dan sopan terhadap siapapun. Santi duduk di bangku SMP kelas 9, ia dikenal sebagai siswa yang pandai disiplin. Ia selalu mendapat juara kelas disekolahannya. Meskipun ia berasal dari keluaraga tidak mampu tetapi ia mempunyai semangat belajar yang luar biasa.
Aktivitas sehari-harinya adalah beribadah, belajar dan selalu membantu orang tuanya. Ia sangat prihatin terhadap kondisi keluarganya. Ia kasihan melihat ibunya setiap terbit fajar hingga petang selalu bekerja membanting tulang demi mencari sesuap nasi untuk keluarganya. Ketika ibunya pulang bekerja ia menyambut ibunya dengan senyuman dan salam. “Ibu pasti capek, karena seharian bekerja hingga keringat ibu bercucuran” Kata Santi sambil mengelap keringat di wajah ibunya. Lalu ibunya menjawab “ Iya, mau bagaimana lagi ini sudah tanggung jawab ibu untuk bekerja keras menafkahi keluarag kita.” Santi sangat kagum dengan sosok ibunya yang pekerja keras.
Keesokan harinya ibunya jatuh sakit. Santi sangat sedih, melihat ibunya yang terbujur lemas di atas tempat tidur. Santi membawakan segelas teh hangat untuk ibunya. “Ibu, ini aku buatkan teh untuk ibu. Aku tahu pasti ibu kelelahan hingga ibu bisa sakit seperti ini.” Kata Santi.
“Ibu tidak apa-apa, ini hanya pusing biasa.” Jawab ibunya. “Lebih baik untuk beberapa hari ibu tidak usah bekerja dahulu, ibu istirahat saja di rumah.” Kata Santi. “Iya, ini sudah jam berapa nak? Ayo kamu segera siap-siap untuk berangkat sekolah, jangan sampai kamu terlambat !”
Santi mencium tangan ibunya dan berkata “Iya bu, aku akan berangkat sekarang.” Kemudian ia bergegas pergi ke sekolah.
“Hati-hati nak, jangan lupa berdoa dahulu.” Pesan ibunya.
Perjalanan Santi menuju sekolahannya cukup lama. Ia hanya mengendarai sepeda.Dengan tenaga dan semangatnya ia mengayuh sepedanya. Jarak dari rumahnya sampai sekolah kira-kira 14 km, dan menghabiskan waktu hingga satu jam lebih,hingga membuatnya sangat letih. Namun, itu tidak menjadi kendala baginya untuk mencari ilmu demi mencapai cita-citanya.
Sesampainya di sekolah, ia melihat teman-temannya yang sedang asyik bermain Handphone,Ipad,dan laptop. Ia ingin bisa memiliki fasilitas mewah seperti teman-temannya, namun ia sadar ia tidak mungkin bisa memilikinya karena ia tidak mampu untuk membelinya.
“Hei anak kampung, kamu ke sekolah naik apa ?” Tanya salah seorang temannya.
Lalu temannya menjawab “Dia ke sekolah naik sepeda butut, hahaha…” Santi sabar melihat ejekan dari teman-temannya.”Sepedaku memang jelek,tapi aku tetap bersyukur karena itu itu pemberian orang tuaku.” Ujar Santi. Kemudian Santi meninggalkan teman-temannya dan ia masuk ke kelas. Tidak semua teman Santi yang membenci Santi. Masih ada beberapa teman Santi yang baik kepadanya. Salah satunya Dina. Dina adalah sahabat Santi dan teman satu mejanya. Meskipun Dina anak orang kaya, namun Dina tidak pernah memilih-milih teman dalam bergaul.
Ketika bel istirahat berbunyi,semua anak keluar dari kelas. Santi dan Dina menghabiskan jam istirahatnya di perspustakaan. “San, kenapa hari ini kau kelihatannya sedih, apa kau sedang ada masalah?” Tanya Dina. Kemudian dengan nada rendah Santi menjawab “Ibuku sedang saki, itu yang membuatku kurang semangat hari ini.” Kemudian Dina kembali bertanya “Memangnya ibumu sakit apa?” “Ibu ku pusing, mungkin ibuku kelelahan karena setiap hari bekerja” Jawab Santi. “Oh, jadi gitu ku do’a kan semoga ibumu cepat sembuh.”
Santi takut bila terjadi sesuatu terhadap ibunya. Ia tidak mempunyai uang untuk membelikan ibunya obat. Untuk makan sehari-hari saja sangat susah.Persediaan beras dan bahan makanan di rumahnya pun juga sudah menipis. “Ya Allah, bagaimana ini? Beras sudah mulai habis, uang pun aku juga tidak punya.” Kata Santi dalam hati. “Kak, aku sangat lapar, ada makanan apa di rumah kita ?”. Mendengar adiknya yang sedang kelaparan, Santi sedih dan bingung karena tidak ada makanan di rumahnya. “Tidak ada makanan di rumah kita, beras juga sudah mulai habis.” “Lalu nanti kita makan apa kak?” Tanya adiknya.
“Sabar dek, kakak akan carikan ubi di ladang untuk di makan.” Kata Santi.Santi pergi ke ladang mencari ubi. Memang tak banyak ubi yang ia dapat, namun setidaknya itu bisa mengurangi rasa lapar keluarganya.
Selama hampir tiga hari Santi dan keluarganya tidak memakan nasi. Karena persediaan bahan makanan di rumahnya sudah habis dan mereka tak mampu untuk membelinya. Ketika di sekolah Santi terlihat pucat pasi, tubuhnya lemas tak bertenaga. Akhirnya ia jatuh pingsan di depan pintu kelas. Teman-temannya langsung membawanya ke ruang UKS. Setelah beberapa menit kemudian Santi siuman. “Syukurlah akhirnya kamu siuman San. Kenapa kamu bisa pingsan?” Tanya Dina. “Hampir 3 hari ini aku tidak makan nasi, karena beras dan bahan makanan di rumah ku sudah habis.” “Astaghfirullah, kasian sekali kamu San, kenapa kamu tidak membeli beras dan bahan makanan?” Tanya Dina dengan wajah cemas. “Keluargaku tidak mempunyai uang untuk membeli beras dan bahan makanan.” Mengetahui masalah yang dialami sahabatnya Dina ingin membantu sahabatnya yang sedang kesusahan.
Esoknya ia tidak masuk sekolah karena sakit. Dina mengajak teman-temannya dan wali kelasnya untuk bersama-sama membantu Santi.Akhirnya wali kelasnya mengajak para muridnya untuk iuran seikhlasnya untuk membantu Santi. Dina dan teman-temannya setuju, dan hasil iuran mereka akan dibelikan sembako untuk Santi dan keluarganya.
Keesokan harinya, Dina, Sekar, Lia, dan Tyas datang ke rumah Santi. Santi sangat kaget melihat kedatangan mereka. “Ada apa teman-teman?” Tanya Santi dengan wajah setengah tidak percaya melihat kedatangan Dina dan teman-temannya. “Hai San, kami datang kesini untuk menengokmu, dan sekalian untuk bersilahturahmi.” Kata Dina. “Iya terima kasih teman-teman kalian sudah mau datang menengokku, aku jadi merepotkan kalian.” Kata Santi. “Oh, tidak apa-apa San malah kami senang bisa main kerumahmu.” Ujar Dina. “Tapi maaf, rumahku sempit dan jelek, tidak seperti rumah kalian yang megah dan mewah.” Kata Santi sambil menunjukkan kondisi rumahnya yang sederhana. “Ah, tidak masalah San.Rumah jelek atau rumah mewah sama saja yang penting bisa untuk tempat tinggal, iya kan teman-teman?” Kata Dina sambil menoleh ke teman-temannya. Kemudian dengan serentak mereka menjawab “Iya..” Kemudian Dina bertanya kepada Santi tentang kondisi ibunya. “Bagaimana dengan kondisi ibumu San? Apakah sudah sehat?” “Ibu ku sudah membaik kok Din,hanya saja masih belum mulai bekerja.” Jawab Santi. “Oh.. memang sekarang ibumu ada dimana?” Tanya Lia. “Ibuku sedang berbaring dikamarnya, apa kalian mau bertemu dengan ibuku?” Tanya Santi kepada teman-temannya. “Iya boleh San, kalo diijinkan.” Kemudian Santi menemui ibunya di kamar ibunya. “Bu.. di luar ada teman-teman ku, mereka datang kesini untuk mennjenguk ku dan bersilahturahmi.” “Oh,, ya ibu akan menemui mereka” Kata ibunya sambil beranjak dari tempat tidurnya. “Ini teman-temannya Santi ya?” Tanya ibu Santi sembari berjabattangan dengan mereka. “Iya bu, maaf kami jadi mengganggu istirahat ibu.” “Tidak apa-apa nak, silahkan duduk dahulu.” Setelah iu Santi keluar membawa nampan yang di atasnya ada empat buah gelas yang berisi air putih. “Ini diminum dahulu, maaf aku hanya bisa memberi air putih saja, aku tidak punya apa-apa.” Kata Santi. “Iya terima kasih San.” Kemudian mereka menghabiskan segelas air putih yang disuguhkan oleh Santi. Tidak lama kemudian, mereka berpamitan pulang. “Maaf San, kami mau pulang karena hari sudah sore, dan ini ada sedikit beras dan bahan makanan unuk keluargamu, mungkin ini tidak seberapa tapi semoga saja ini bisa bermanfaat untuk keluargamu.Tolong terimalah..!” Kemudian Santi menerima pemberian dari teman-temannya. Ia senang dan bersyukur atas pemberian dari teman-temannya. “Iya terima kasih, aku sudah merepotkan kalian.” “Oh.. tidak mengapa.”
***
Tidak terasa waktu demi waktu terus berjalan. Tinggal beberapa hari lagi Santi akan menghadapi Ujian Nasional.Segala persiapan telah ia siapkan mulai dari fisik dan mentalnya.Ia selalu berdo’a dan belajar dengan sungguh-sungguh, karena ia ingin mendapatkan hasil yang memuaskan ia tak mau mengecewakan orang tuanya yang sudah susah payah membiayai sekolahnya.
Ketika ia menghadapi Ujian Nasional ia mengerjakan dengan teliti dan hati-hati. Rasa was-was tetap ada dalam benaknya. Setelah beberapa hari menghadapi Ujian Nasional, akhirnya selesai juga. Ia merasa lega,namun ia juga merasa takut apabila hasil yang ia peroleh tidak sesuai dengan yang ia inginkan.
Sore hari, sesudah sholat ashar ia duduk di depan rumahnya sambil melihat pepohonan rimbun di sekeliling rumahnya.Hatinya bimbang memikirkan jika setelah lulus nanti, apakah ia bisa melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi seperti para teman-temanya atau tidak?” Teman-temannya sudah merencanakan sekolah yang mereka inginkan. Sedangkan, ia tahu bahwa ibunya hanyalah seorang tukang batu yang upahnya hanya seberapa, dan untuk melanjutkan sekolah butuh biaya yang tidak sedikit, apalagi sebentar lagi kedua adiknya juga akan mulai masuk Sekolah Dasar. Ia takut kalau nanti ibunya tidak dapat membiayai sekolahnya.
Rasa sedih dan takut itu menyelimuti hatinya. Kadang kala ia tidak bisa tidur hanya karena memikirkan hal itu. “Bagaimana kalau nanti aku tidak bisa melanjutkan sekolah? Apa yang aku cita-citakan tidak akan tercapai. Setelah lulus nanti aku ingin bisa melanjutkan sekolah, andai saja aku seperti teman-temanku yang sudah pasti bisa melanjutkan sekolah mungkin aku tidak akan merasa resah seperti ini.” Katanya dalam hati.
Hari pengumuman hasil Ujian Nasional telah tiba.Ketika dibacakan hasil Ujian Nasional, hati Santi mulai berdebar-debar. Ia terus berdo’a agar hasilnya baik. Ternyata Santi memperoleh nilai Ujian Nasional yang memuaskan.Ia berhasil memperoleh nilai Matematika dan Bahasa Inggris 10. Ia mendapat hadiah dari pihak sekolah.Sungguh luar biasa, berkat kegigihan, usaha, ikhtiar dan kerja kerasnya akhirnya ia memperoleh hasil yang sangat menggembirakan.Ia juga mendapat beasiswa untuk melanjutkan ke jenjang sekolah yang lebih tinggi. Alangkah senang hatinya, ibunya juga bangga dengan hasil yang ia peroleh.Air mata kebahagiaan menetes di wajahnya.Sungguh itu adalah hari yang sangat membahagiakan bagi Santi. Ia memeluk erat tubuh ibunya. “Terima kasih Ya Allah, atas anugerah yang Kau berikan kepadaku.” Kata Santi dalam hati.
JANJI PURNAMA KE TIGA PULUH TUJUH
Suara azan
shubuh telah berkumandang membangunkanku yang sedang berbaring diatas ranjang.
Aku segera bergegas mengambil air wudhu. Rupanya Emak dan Bapak sudah pergi ke
surau. Di rumah hanya ada aku dan Mbak Endah. Mbak Endah sedang tertidur pulas
di bawah selimutnya. “ Ayo bangun mbak,
sudah azan shubuh tu ”. Bujukku sambil menggerak-gerakan tubuh Mbak Endah. “
Ah, nanti ! Masih dingin banget !” Seperti
biasa Mbak Endah memang malas untuk bangun pagi apalagi untuk shalat. Ia lebih
mementingkan tidur, walaupun akhirnya ia bangun kesiangan.
Embun dan kabut masih menutupi
hijaunya dedaunan. Kicauan burung yang merdu terdengar dari ranting pepohonan.
Ayam jago pun tak mau kalah berkokok ditambah udara pagi yang segar menyempurnakan suasana pagi. Di
ufuk timur sang surya mulai menampakkan sinarnya yang menghangatkan jiwa. Para
warga memulai aktivitas mereka, ada yang siap pergi ke sawah, ada yang sibuk
menata barang dagangan yang akan dijual di pasar, ku lihat bapak dan pamanku
sudah siap pergi menjala ikan di laut. Menjadi seorang nelayan adalah mata
pencaharian bapakku. Meskipun hanya menjadi seorang nelayan yang
berpenghasilan tak seberapa, namun bapak tetap bekerja keras membanting tulang
untuk menghidupi keluarga. Kami tidak pernah mengeluh dengan keadaan di
keluarga kami yang hanya hidup serba pas-pasan. Aku juga tidak malu dengan
kondisiku yang di lahirkan di keluarga tidak punya, dan serba kekurangan.
Waktu menunjukkan pukul 06.30. Aku segera
berangkat sekolah. Aku berangkat sekolah dengan jalan kaki yang jaraknya
sekitar 5 kilometer. Aku belum sempat sarapan, karena Emak belum memasak dan
persediaan beras di rumah kami juga sudah habis. Aku
sudah biasa tidak sarapan, walaupun perutku keroncongan tapi aku tahan. Hanya
ada sepotong ubi rebus yang kubawa untuk mengganjal perut ketika jam istirahat.
***
Deburan ombak mendesir di pasir nirma.
Angin sepoi membelai rambutku. Di atas sana dewi malam mulai menampakkan
sinarnya yang penuh. Malam ini tepat bulan purnama. Di desa ku akan diadakan
upacara bersih desa. Di sela-sela deburan, gamelan yang di tabuh dan riuh suara
yang menarik hati. Di lapangan desa sedang diadakan pagelaran Tari Sintren. Aku
tak sabar ingin melihatnya, aku berlari kencang dengan wajah riang
menyenandungkan nada suka-suka. Berlomba dengan semilir angin yang dingin.
Sesampai disana di sekeliling lapangan
sudah di penuhi warga desa. Seolah tak mau tertinggal aku memaksa untuk melihat
di barisan paling depan dan menyelinap di sela-sela warga. Lantunan
tembang-tembang jawa, dan harmonisasi iringan musik gamelan yang di tabuh
paraniyaga. Setelah gamelan ditabuh para sinden menyanyi. Gending gamelan terus
beralun berpadu dengan tembang-tembang jawa yang syahdu. Para
penari menari di bawah gelyas purnama.Para warga yang
bersorak sorai menyaksikan penampilan para penari yang cantik dan dengan
apiknya membawakan Tari Sintren. Syahdu. Pentas sintren
malam itu untukku sungguh syahdu. Aku ternganga melihatnya begitu
mempesona. Aku ingin menjadi seperti mereka yang lincah menari. Sepertinya
menarik juga menjadi seorang penari.
Selesai pagelaran, aku menemui Mak Dimah. Mak Dimah adalah ketua
grup Sintren. “Mak, aku ingin bisa menari seperti mereka. Emak hebat bisa
melatih Tari Sintren. Ajari aku ya Mak!” Pinta
ku kepada Mak Dimah. “ Baik, apa kamu sungguh-sungguh ?” “ Iya Mak, tapi Mak
Dimah janji ya mau melatihku dan membuatku bisa mahir menari”. Mak Dimah hanya
tersenyum menatapku sambil menata seperangkat gamelan yang telah selesai
dimainkan.
***
Esok harinya akau pergi menemui Mak Dimah.
Aku sengaja pergi tak memberitahu Emak dan Bapak. Aku melihat Mak Dimah sedang
duduk diatas kursi yang sudah reot. Ia menatap ke atap yang penuh dengan
jelaga, kemudian ke tembok yang berwarna pudar kusam. “ Assalamu’alaikum” aku,
berdiri sambil mengucapkan salam di teras Mak Dimah. “ Waa’la ikumsalam” Jawab
Mak Dimah. Mak Dimah bangkit dan menemuiku. “ Sini masuk Rum, kamu hanya
sendiri kesini? “ Iya Mak. Mak tidak lupakan sama janji Mak tadi malam?”.
“ Tidak Rum, Emak selalu ingat akan janji Emak. “ Kalau begitu, ayolah mak
ajari aku menari, aku sudak tidak sabar!”. Mak Dimah masuk ke sebuah kamar
kecil dimana ia meletakkan semua peralatan Sintren. Ia keluar membawa selendang
dan meletakkannya di atas meja. “ Arum, untuk menari Sintren itu tidak semudah
yang kamu kira nduk. Kamu harus sabar dan tekun. Rasakan alunan nada-nada
gamelan dengan penuh perasaan.” Mendengarkan ucapan Mak Dimah aku menjadi lebih
semangat untuk berlatih Tari Sintren. Langkah demi langkah Mak Dimah tunjukan
kepadaku. Mataku terus melihat setiap gerakan yang Mak Dimah lakukan.tangan dan
kakiku seolah tak bisa berhenti meniru gerak gerik Mak Dimah yang sudah sangat
mahir itu. Kuakui menari Sintren memang tidak mudah, tapi aku yakin aku bisa menari
dengan elok seperti penari-penari itu.
Hari sudah sore, aku pamit pulang ke Mak
Dimah, karena seperti biasa aku harus membantu Emak mencari kayu bakar dan ubi.
“ Darimana saja kau Arum, dari tadi Emak mencarimu” Kata Mbak Endah seperti
sedikit kesal kepadaku. Aku langsung masuk rumah dan mencari Emak, rupanya Emak
sudah pergi ke ladang. Aku bergegas menuju ke ladang biasa tempatku dan Emak
mencari kayu bakar. Disana aku tidak berjumpa dengan Emak, namun aku tetap
mencari kayu bakar dan ubi untuk makan malam. Akhirnya kayu yang aku kumpulkan
sudah lumayan banyak, dan ubi yang ku dapat juga sudah cukup untuk makan malam
nanti. Aku memutuskan untuk pulang. Ternyata sesampainya aku dirumah, Emak ada
di rumah. Pantas saja aku tidak berjumpa dengan Emak di ladang “ Mak,
darimana?” Tanyaku. “ Emak, dari tadi di rumah. Kepala Mak sakit Rum, jadi Emak
tidak bisa ikut ke ladang. “ Emak terlihat lemas dan pucat. “ Iya Mak, Emak
istirahat saja dirumah. Kemana Mbak Endah Mak?” tanyaku sambil melihat di
sekeliling rumah.” “ Entahlah, Emak juga tidak tahu.”
Mbak Endah memang selalu dimanja oleh Bapak
dan Emak. Mungkin karena Mbak Endah lebih cantik dariku. Sementara, aku selalu
diejek oleh kawan-kawan di kampung maupun sekolahku dengan panggilan sireng dan
kriwil.Aku berusaha sabar menerima ejekan dan cemoohan dari
kawan-kawanku. Meskipun
Emak dan Bapak terkadang juga pilih
kasih denganku, karena tubuhku yang ceking, rambutku yang kriwil, dan kulitku
yang gelap. Rasa sayang Emak dan Bapak juga berbeda. Mereka lebih
menyayangi Mbak Endah daripada aku. Ditambah dengan sikap Mbak Endah yang
sering bermalas-malasan, membuatku sedikit kesal dengannya. Tapi aku tetap
saying dengan Mbak Endah.
Aku tetap merahasiakan tentang latihanku
bersama Mak Dimah setiap pulang sekolah aku berlatih bersama Mak Dimah. Aku
menganggap Mak Dimah seperti Emakku sendiri. Ia dengan sabar melatihku. Ucapan
Mak Dimah juga mampu menyemangatiku untuk rajin belajar. Menyalip teman-teman
dikelasku yang suka mengejekku. Cukup mengagetkan guru-guru, teman-teman di
sekolah, orang-orang kampung, bahkan Emak dan Bapak terheran-heran. Mereka
seolah tidak bisa percaya saat aku mendapat rangking pertama pada hasil laporan
kenaikan kelas dua SMP.
Tak hanya itu, ucapan Mak Dimah juga mampu
merendam gejolak jiwaku yang selama ini sering iri karena perbedaan fisik yang
terlalu mencolok antara aku dan Mbak Endah. Namun aku sadar bahwa setiap
makhluk ciptaan Tuhan mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Aku
menganggap kekuranganku ini adalah sebuah kelebihan yang ada pada diriku.
Seiring berjalannya waktu, aku mulai
menguasai gerakan-gerakan yang diajarkan Mak Dimah. Aku lebih dekat dengan Mak
Dimah, aku merasa nyaman di bimbingan Mak Dimah.
Suatu ketika aku hendak kerumah Mak
Dimah. “ Mau kemana Rum?” tanya Emak. Aku menjawab jujur kepada Emak, bahwa aku
mau ke rumah Mak Dimah. “ Mau apa kau ke rumah Mak Dimah?”. “ Tadi aku
dipanggil Mak Dimah suruh kesana.” Jawabku dengan sedikit ragu dan aku telah berbohong kepada Emak.
Sore itu benar-benar dingin, angin-angin
senja yang berhembus membuatku terlelap dalam dinginnya sore ini. Entah mengapa
sudah dari siang hujan tak henti juga. Hujan
lebat mengiringi sore yang berlabuh pada senja hari yang muram. Jalanan basah
dan becek bercampuran dengan liatnya lumpur yang menjadikan jalanan kampung
sulit untuk di lalui. “ Aduh hujannya deras sekali Mak Dimah menengok ke kaca
jendela, dan terdengar bunyi petir. “ Tidak apa-apa. Nanti juga reda,” “ Aku
takut tidak bisa kembali ke rumah, apa jadinya nanti pasti seisi rumah
mengamukku.”
Emak datang menjemputku. Ia membawa
serta payung berwarna merah muda yang belum sempat ia buka untuk memayungi
tubuhnya. Tok...tok....tok... suara ketukan pintu terdengar. Mak Dimah bergegas
membukakan pintu. Ketika Mak Dimah membuka pintu terlihat Emak menggigil
kedinginan. Bajunya basah kuyup.
“
Emak! Kenapa bisa basah kuyup gini?” Aku terkejut melihat Emak.
“
Emak cemas denganmu Rum! Pulanglah, bapakmu juga sudah menunggumu!
“
Ndak mau, aku mau latihan menari
bersama Mak Dimah.”
“
Pulang yuk Rum!. Kalau kau tidak pulang Bapakmu akan
marah!” Akhirnya
aku menuruti perintah Emak untuk segera pulang.
Ternyata benar, sesampai dirumah Bapak
memarahiku. “Darimana saja kau ? Hujan-hujan gini kelayapan!” “Aku
habis dari rumah Mak Dimah Pak.” Jawabku dengan suara pelan. “ Untuk apa kau
kesana?” “ Aku latihan tari disana” Tiba-tiba mata bapak seolah menatapku
dengan tajam. “Kenapa
kau tidak pernah bilang, kalau kau ikut latihan tari di rumah Mak Dimah? Bapak
hanya ingin kamu fokus sekolah, dan jangan ikut yang aneh-aneh. Untuk apa kau mengikuti latihan tari, buang-buang waktu saja!” Muka
bapak memerah,tak terlihat sedikit senyum kecil di wajah Bapak. Ia
tampak muram
dan suasana rumah menjadi tegang. Emak dan Mbak Endah juga seperti terbungkam
tidak berbicara sepatah kata apapun. “Tapi Pak,
aku ingin bisa seperti mereka yang mahir menari.” “Bapak
tidak suka kau menjadi penari. Jangan
membantah perintah bapak!” Ucap
bapak dengan nada tinggi.
Air
mataku mengalir dan membasahi pipi. Kenapa Bapak tega melarang ku untuk menari.
Apakah menjadi penari itu salah?” Hatiku seperti di hancurkan berkeping-keping.
Ingin rasanya aku berteriak, melampiaskan kekecewaanku.Mengapa apa yang aku
lakukan selalu salah dimata Bapakku, sedangkan Mbak Endah selalu benar, dan Mbak
Endah lah yang selalu dimanja.
Sebentar lagi sekolahku akan
mengikuti lomba Pekan Seni dan Olahraga tingkat SMP se-Kabupaten. Seperti biasa
sekolahku ikut berpartisipasi dalam lomba tersebut. Meskipun sekolahku jarang
menyabet gelar juara.Guruku mencari siswa yang mahir menari untuk mengikuti
lomba tari, namun sayangnya tidak satupun siswa yang berbakat dan berminat
mengikuti lomba tari. Tiba-tiba saja, Pukat teman satu kelasku berbicara kepada
guruku bahwa aku sering mengikuti latihan tari di rumah Mak Dimah. Entah,
bagaimana ia bisa tahu bahwa aku sering latihan. Apa mungkin Mak Dimah yang
memberitahunya. Guruku menyuruhku latihan tari bersamanya sepulang sekolah.
Hatiku bimbang, diantara dua pilihan. Apa aku harus ikut latihan tersebut? Tapi
aku masih ingat benar ketika Bapak memarahiku gara-gara aku latihan menari di
rumah Mak Dimah. Aku tidak mau kejadian itu terulang lagi. Tapi
kapan lagi aku mendapatkan kesempatan untuk mengikuti lomba menari.
Bel berbunyi, tanda waktunya pulang.
Kulihat Bu Eni menghampiriku “ Ayo, Rum kita ke aula”.Ajak Bu Eni. Sebenarnya aku ragu, tapi kakiku melangkah mengikuti
Bu Eni. Bu Eni membimbingku latihan menari. “ Ingat Rum, persiapan kita hanya satu
minggu. Minggu depan kau sudah lomba.” Kata Bu Eni. Aku hanya mengangguk.
Meskipun
Bapak dan Emakku tidak mengijinkan aku menari, tetapi aku tetap ingin menari.
Mak Dimah sudah mengetahui kalau aku sebentar lagi akan lomba menari. “ Pada
saatnya nanti kau akan menjadi penari yang hebat, percayalah.” Ucap Mak Dimah. Hatiku terharu mendengar ucapan Mak Dimah yang selalu menyemagatiku.
Ucapan itu selalu terngiang - ngiang
ditelingaku, “Pada malam bulan purnama ketiga puluh tujuh ini aku
berjanji Mak, aku akan menjadi kebanggaanmu. Semua yang telah kau ajarkan
padaku, akan ku jadikan bekal meraih impianku !” Mak Dimah memelukku dan Ia tak
mampu menahan air matanya. Itu yang memotivasi diriku untuk tetap berjuang
walau banyak rintangan menghadang. Semua petuah-petuah dari Mak Dimah akan
selalu ku ingat.
Esok harinya lombapun dimulai. Aku merasa
kurang percaya diri, namun aku harus yakin bahwa aku bisa. Demi Emak dan Bapak,
Mak Dimah dan demi nama baik sekolahku. Aku mencoba menari seelok mungkin di
atas panggung dan di hadapan para dewan juri. Aku meniru gaya penari – penari Sintren
yang lemah gemulai lembut derana. Berlenggak – lenggok penuh arti. Menjadi
penari titisan budaya. Dengan besutan selendang sutra yang menjadi simbol
kelembutan hati dan perilaku.
Akhirnya setelah lomba tari selesai, kini
tinggal pengumuman kejuaran. Aku sudah tidak sabar namaku dipanggil dan anik ke
panggung. “Baiklah para
hadirin dan peserta lomba menari yang berbahagia kami akan mengumumkan juara 1,
2 dan 3. Harap yang kami panggil naik ke panggung
Juara 3 diraih
oleh Anisa dari SMP Pancasila, selanjutnya,
Juara 2 diraih
oleh Ratna Al Fitri dari SMP N 3 Pekalongan.”
Harapanku pupus, ternyata posisi juara
2 & 3 sudah di duduki orang lain. Kini tinggal juara pertama yang aku
ditunggu. Jantungku berdebar-debar, kakiku gemetaran, dan ekspresi wajahku
seperti orang yang sangat tegang. “ Dan juara pertamanya adalah . . . . . Arum Sukmawati dari SMP N 8 Pekalongan
!” Aku sangat senang. Aku tidak
menyangka bahwa aku telah berhasil menyabet juara pertama. Akhirnya do’a ku terkabul
juga. “Alhamdulillahirabil a’alamin”. Terima kasih Ya Allah Kau telah
mengabulkan do’a ku.
Ketika
aku pulang, aku sudah tidak sabar memberikan kabar bahagia ini kepada Mak
Dimah. Tiba – tiba aku terkejut melihat bendera putih setengah tiang berkibar
di depan rumah Mak Dimah. Kulihat orang – orang berdatangan.
“Bulik, siapa yang meninggal ?”
“Mak Dimah telah dipanggil
Yang Maha Kuasa,” Jawab Bulik Nur
dengan mata berkaca-kaca. Bulik
Nur adalah keponakan Mak Dimah yang tinggal satu rumah dengannya. “Inna lillahi ...
Astaghfirullah Hal Aldzim! Ada apa dengan Mak Dimah
Bulik? Kenapa Ia bisa meninggal dunia?” Tanyaku.
“Mak
Dimah meninggal karena serangan jantung nduk, sewaktu Bulik pulang dari pasar Mak Dimah sedang
sehat-sehat saja. Kemudian Mak Dimah minta dibuatkan secangkir teh hangat.
Ketika Bulik selesai membuat teh, Mak Dimah sudah tidak bernafas”
Aku berlari masuk kerumah Mak Dimah, aku tak percaya Mak
Dimah secepat ini meninggalkanku, padahal baru tadi malam ia bersamaku. Aku
tidak meneteskan air mata, aku mencoba sabar dan
tegar mengikhlaskan kepergian Mak Dimah. Mungkin Tuhan sangat sayang kepada Mak
Dimah. Selamat jalan Mak Dimah, Semoga Mak Dimah bahagia di sisi-Nya. Aku
berjanji Mak, aku akan meneruskan perjuanganmu sebagai seorang penari. Aku tidak akan melupakan jasa – jasa
Mak Dimah.
Sepulang dari pemakaman Mak Dimah, aku
berniat untuk memberitahu Bapak dan Emak tentang lomba menariku. Aku tak tahu
apa mereka akan menghukumku atau bahkan menggantungku hidup-hidup. Tapi lebih
baik aku jujur kepada mereka daripada aku menyembunyikan ini. Semua aku
serahkan kepada Yang Diatas. Jika Emak dan Bapak menghukumku aku tidak masalah,
aku siap menerima semua resiko.Aku berharap mereka mau mema’afkan aku atas
kesalahanku melanggar perintah mereka. Tapi aku lakukan ini demi nama baik
sekolahku, seharusnya mereka juga turut bangga denganku, tapi entahlah. Ketika aku
berbicara kepada Emak dan Bapak bahwa aku telah memenangkan lomba menari aku
menunjukkan piagam penghargaan yang aku peroleh. “ Mak, aku mau menunjukkan
sesuatu kepada Emak.” “Apa Rum,?” Jawab
Emak.
“ Mak aku telah berhasil menjuarai
lomba menari, aku tahu Emak dan Bapak melarangku menari, tapi aku lakukan ini
atas perintah guruku Mak, sungguh Bu Eni lah yang memilihku untuk mewakili
sekolah. Aku siap menerima hukuman dari Emak dan Bapak.”
Mendengar hal itu Emakku tersenyum,
seolah tak ada rasa kesal di wajah Emak. “Emak tidak mau mema’afkan aku ya?”
Aku memang salah Mak, sungguh aku minta ampun sama Emak!” Air mataku berlinang
dan aku sujud di hadapan Emakku. Emak membangunkan diriku, Emak mencium keningku serta memelukku erat sekali.
Dan berkata “Duh, Gusti Kang Maha Welas Asih, matur
nuwun Gusti.”
Entah mengapa Emak berkata demikian dan tidak
memarahiku. “ Emak tidak marah?” “Kenapa Emak harus marah dengan mu? Emak
justru bersyukur dan bangga kau anak Emak bisa menjunjung nama baik sekolahmu, inilah
yang Emak harapkan Emak bangga punya anak sepertimu!.
Aku seolah terkejut dan tidak
percaya. Bapak dan Emak bangga denganku, ku kira mereka akan memarahiku atau
mencaci maki aku lagi. Emak dan Bapak menjadi sayang kepadaku. Mereka menjadi
lembut dan tidak memarahiku lagi. Aku berharap aku bisa selalu membanggakan
mereka. Ternyata mereka sudah sadar bahwa menari adalah bakat yang
bakat itu terpendam dan sekarang ini telah tumbuh berkat Mak Dimah. Aku akan
menepati janjiku. Janji purnama ketiga puluh tujuh.
Cita-Cita
Cerita Seru
Ketika aku duduk di bangku SMP kelas 8 aku mempunyai cerita seru yang tak bisa kulupakan. Ketika aku duduk di bangku SMP kelas 8 aku mendapat kejutan dari teman-teman ku. Tanggal 05 September 2013 ketika itu aku ulang tahun aku di guyur tepung oleh teman-teman ku. Hahahaha aku sangat kaget ketika itu aku sedang berjalan dan akan membuka pintu tiba-tiba langsung kena tepung yang ada di atas pintu. Badanku penuh dengan tepung dan aku menjerit-jerit seolah tak percaya dengan apa ya ng teman-temanku lakukan. Aku bahagia ini adalah kejutan yang menarik tetapi juga membuatku agak marah .Kamipun saling melempar-lemparkan tepung yang berserakan di lantai. Hahahaha maklum lah kami ini memang anak-anak jahil. Walau begitu aku tetap tertawa gembira bersama teman-temanku . Ketika aku pulang aku menjadi pusat perhatian orang-orang di sekeliling ku. Mereka memandangku seolah dengan ekspresi aneh. Mungkin karena muka dan tubuhku yang cemang-cemong kena tepung dan telur dan aku terlihat aneh. Aku sangat malu,, tapi tidak apa-apa lah karena ini merupakan hadiah dari teman-temanku. Terima kasih teman-teman kalian sudah memberikan surprise pada ulang tahunku...Cara Kerja Sistem Komputer
Cara Kerja Sistem Komputer - Pengolahan data yang menggunakan komputer sebagai medianya dikenal dengan istilah Electronic Data Processing (EDP). Pengolahan data adalah suatu proses dimana sebuah data diproses atau diubah ke dalam bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti, yaang berupa sebuah informasi.
Agar komputer dapat digunakan untuk mengolah sebuah data menjadi sebuah informasi, maka diperlukan sebuah sistem yang yang disebut sistem komputer. Sistem yang dimaksud disini terdiri atas elemen-elemen yang saling terhubung sehingga membentuk satu kesatuan yang dapat digunakan untuk melakukan tujuan pokok dari sistem tersebut.
Pada artikel ini akan saya jelaskan cara kerja dari sistem komputer tersebut. Mulai dari data dimasukan, diproses, sampai data tersebut dicetak, ditampilkan, dan dikeluarkan kembali. Baca lebih lanjut jika Anda ingin tahu bagaimana caranya sebuah data diproses hingga menjadi sebuah informasi yang bermanfaat.
Penjelasan Lengkap Tentang Cara Kerja Sistem Komputer

1. Pemasukan (Input)
Tahap pemasukan (input) merupakan tahap awal dari proses pengolahan yang terjadi pada sistem komputer. Tahap ini berupa pemasukan data mentah ke dalam sistem komputer melalui input device. Contoh dari peralatan masukan (input device) diantaranya, keyboard, mouse, scanner, dll. Alat-alat inilah yang digunakan untuk memasukan data yang hendak diolah. Seperti hal nya keyboard, difungsikan untuk memasukan huruf, angka, maupun simbol-simbol lainnya ke dalam komputer yang selanjutnya akan diproses.
2. Pemrosesan (Process)
Pada tahap ini, data yang telah dimasukan melalui peralatan input tadi akan diproses. Tahap proses ini dilakukan oleh processing device yaitu CPU. Yang mana CPU ini dapat melakukan fungsi perhitungan dan logika untuk perbandingan (ALU) dan juga mengontrol (CU). Pada tahap ini, data yang masih mentah tadi diproses sedemikian rupa sehingga data tersebut siap dicetak menjadi informasi yang lebih bermanfaat.
3. Pengeluaran (Output)
Pada tahap ini, data yang tadinya telah dimasukan melalui peralatan input, kemudian diproses oleh CPU akan bisa dicetak apabila sudah siap. Pencetakan ini bisa berupa hardcopy dan juga softcopy. Hard copy berarti menggunakan media fisik seperti kertas ataupun yang lainnya. Softcopy berarti menampilkan gambar visual melalui monitor ataupun projektor. Yang termasuk dalam peralatan output disini adalah, monitor, projector, printer, dll.
4. Penyimpanan (Storage)
Tahap ini merupakan proses perekaman hasil pengolahan ke alat penyimpan (storage device) dan dapat dipergunakan kembali sebagai input untuk proses selanjutnya. Jadi, data mentah yang telah diproses tadi dapat disimpan pada media penyimpanan (Storage device) agar nantinya bisa digunakan kembali sewaktu-waktu apabila ingin mencetak data tersebut.
Pada gambar terlihat dua anak panah yang saling berlawanan arahnya, ini menunjukan bahwa data dapat disimpan dan diambil kembali jika dibutuhkan untuk keperluan pengolahan data.
Sebenarnya, pengolahan data ini tidaklah memiliki ujungnya. Terbukti, dari informasi yang didapat dari data yang diolah sebelumnya, masih bisa dikembangkan lagi menjadi sebuah informasi yang lebih bermanfaat lagi.
Baca pengetahuan dasar lainnya:
3 Elemen Pembangun Sistem Komputer
Macam-macam perangkat keras komputer dan fungsinya
Jenis-Jenis Printer
Arti Bunyi Beep Pada Komputer Berdasarkan Produsen BIOS
Bagian-Bagian Pada Hardisk Komputer
Tip dan Trik Membuat Desain Web dan Website

Jika anda puas dengan hasil kerja anda membangun atau Desain Website dengan fasilitas template, sudahlah cukup sampai disini. Tetapi jika anda tidak puas dengan apa yang anda buat, dan anda merasa ingin lebih baik, maka anda perlu mengetahui bagaimana Web Designer membangun suatu Desain Website, terlepas anda punya bakat seni atau tidak.
- Unik : Dalam membuat karya apapun seorang designer harus mempunyai keunikan atau perbedaaan dari karya orang lain. Begitu pula seorang Web Designer harus dapat membuat sendiri seperti layout, icon, animasi, button, dll.
- Komposisi : Seorang Web Designer selalu memperhatikan komposisi warna yang akan digunakan dalam website yang dibuatnya. Pergunakan selalu Palette 216 WebColor, yang dapat diperoleh dari Adobe.com, hal ini untuk mencegah terjadinya dither pada image yang berformat GIF. Dalam membangun dan Desain Web suatu perusahaan, Web Designer selalu menyesuaikan warna yang digunakan dengan Corporate Color perusahaan tersebut.
- Simple : Web Designer banyak yang menggunakan prinsip "Keep it Simple¡", hal ini ditujukan agar tampilan website tersebut terlihat rapi, bersih dan juga informatif.
- Semiotik : Semiotika adalah ilmu yang mempelajari tentang tanda-tanda. Dalam hal ini diharapkan dengan melihat tanda atau gambar, user/ audience dapat dengan mudah dan cepat mengerti. Sebagai contoh: Jangan membuat gambar/image yang berkesan tombol, padahal itu bukan tombol/ link.
- Ergonomis : Web Designer selalu memperhatikan aspek ergonomic dalam sebuah Desain Web. Ergonomi disini adalah dalam hal kenyamanan user dalam membaca dan kecepatan user dalam menelusuri website tersebut. Web Designer memilih ukuran Fonts yang tepat sehingga mudah dibaca, Web Designer menempatkan link sedemikian rupa sehingga mudah dan cepat untuk di akses dan lebih penting lagi adalah Informatif.
- Fokus : Tentukan hirarki prioritas dari pesan yang akan disampaikan, misalnya: Judul harus besar, tetapi jangan sampai akhirnya akan konflik dengan subjudul yang berukuran hampir sama. Hal ini akan membingungkan user/audience untuk menentukan pesan mana yang harus lebih dahulu dibaca/ dilihat.
- Konsisten : Tentukan font apa yang akan digunakan sebagai Body-text, Judul, Sub Judul dan sebagainya, sehingga website tersebut akan terlihat disiplin dan rapi. Sesuaikan jenis huruf yang digunakan dengan misi dan visi website tersebut, misalnya: hindari menggunakan font Comic dalam membangun website suatu perusahaan resmi.
Demikian beberapa aspek dan prinsip yang digunakan Web Designer dalam membuat website, selebihnya merupakan ekspresi dari pembuat Desain Web itu sendiri yang terwujud dalam penggayaan penyusunan website.
Software-software pembuat suatu website
- Desain : Untuk membuat desain suatu homepage biasanya para web designer dimulai dengan software ini sebagai tampilan sementara atau dalam membuat layout homepage.
- Adobe Photoshop : Desain berbasis titik (bitmap)
- Adobe Image Ready : Memotong gambar-gambar ke dalam format html
- Adobe Illustrator : Desain berbasis vector
- CorelDraw : Desain berbasis vector
- Macromedia Freehand : Desain berbasis vector
- Efek Desain : Hal ini dilakukan untuk menghidupkan desain yang telah kita rancang. Seperti menambah efek cahaya, textur dan manipulasi teks.
- Dan banyak lagi software lainnya.


