- Back to Home »
- JANJI PURNAMA KE TIGA PULUH TUJUH
Posted by : Unknown
Saturday, 14 March 2015
Suara azan
shubuh telah berkumandang membangunkanku yang sedang berbaring diatas ranjang.
Aku segera bergegas mengambil air wudhu. Rupanya Emak dan Bapak sudah pergi ke
surau. Di rumah hanya ada aku dan Mbak Endah. Mbak Endah sedang tertidur pulas
di bawah selimutnya. “ Ayo bangun mbak,
sudah azan shubuh tu ”. Bujukku sambil menggerak-gerakan tubuh Mbak Endah. “
Ah, nanti ! Masih dingin banget !” Seperti
biasa Mbak Endah memang malas untuk bangun pagi apalagi untuk shalat. Ia lebih
mementingkan tidur, walaupun akhirnya ia bangun kesiangan.
Embun dan kabut masih menutupi
hijaunya dedaunan. Kicauan burung yang merdu terdengar dari ranting pepohonan.
Ayam jago pun tak mau kalah berkokok ditambah udara pagi yang segar menyempurnakan suasana pagi. Di
ufuk timur sang surya mulai menampakkan sinarnya yang menghangatkan jiwa. Para
warga memulai aktivitas mereka, ada yang siap pergi ke sawah, ada yang sibuk
menata barang dagangan yang akan dijual di pasar, ku lihat bapak dan pamanku
sudah siap pergi menjala ikan di laut. Menjadi seorang nelayan adalah mata
pencaharian bapakku. Meskipun hanya menjadi seorang nelayan yang
berpenghasilan tak seberapa, namun bapak tetap bekerja keras membanting tulang
untuk menghidupi keluarga. Kami tidak pernah mengeluh dengan keadaan di
keluarga kami yang hanya hidup serba pas-pasan. Aku juga tidak malu dengan
kondisiku yang di lahirkan di keluarga tidak punya, dan serba kekurangan.
Waktu menunjukkan pukul 06.30. Aku segera
berangkat sekolah. Aku berangkat sekolah dengan jalan kaki yang jaraknya
sekitar 5 kilometer. Aku belum sempat sarapan, karena Emak belum memasak dan
persediaan beras di rumah kami juga sudah habis. Aku
sudah biasa tidak sarapan, walaupun perutku keroncongan tapi aku tahan. Hanya
ada sepotong ubi rebus yang kubawa untuk mengganjal perut ketika jam istirahat.
***
Deburan ombak mendesir di pasir nirma.
Angin sepoi membelai rambutku. Di atas sana dewi malam mulai menampakkan
sinarnya yang penuh. Malam ini tepat bulan purnama. Di desa ku akan diadakan
upacara bersih desa. Di sela-sela deburan, gamelan yang di tabuh dan riuh suara
yang menarik hati. Di lapangan desa sedang diadakan pagelaran Tari Sintren. Aku
tak sabar ingin melihatnya, aku berlari kencang dengan wajah riang
menyenandungkan nada suka-suka. Berlomba dengan semilir angin yang dingin.
Sesampai disana di sekeliling lapangan
sudah di penuhi warga desa. Seolah tak mau tertinggal aku memaksa untuk melihat
di barisan paling depan dan menyelinap di sela-sela warga. Lantunan
tembang-tembang jawa, dan harmonisasi iringan musik gamelan yang di tabuh
paraniyaga. Setelah gamelan ditabuh para sinden menyanyi. Gending gamelan terus
beralun berpadu dengan tembang-tembang jawa yang syahdu. Para
penari menari di bawah gelyas purnama.Para warga yang
bersorak sorai menyaksikan penampilan para penari yang cantik dan dengan
apiknya membawakan Tari Sintren. Syahdu. Pentas sintren
malam itu untukku sungguh syahdu. Aku ternganga melihatnya begitu
mempesona. Aku ingin menjadi seperti mereka yang lincah menari. Sepertinya
menarik juga menjadi seorang penari.
Selesai pagelaran, aku menemui Mak Dimah. Mak Dimah adalah ketua
grup Sintren. “Mak, aku ingin bisa menari seperti mereka. Emak hebat bisa
melatih Tari Sintren. Ajari aku ya Mak!” Pinta
ku kepada Mak Dimah. “ Baik, apa kamu sungguh-sungguh ?” “ Iya Mak, tapi Mak
Dimah janji ya mau melatihku dan membuatku bisa mahir menari”. Mak Dimah hanya
tersenyum menatapku sambil menata seperangkat gamelan yang telah selesai
dimainkan.
***
Esok harinya akau pergi menemui Mak Dimah.
Aku sengaja pergi tak memberitahu Emak dan Bapak. Aku melihat Mak Dimah sedang
duduk diatas kursi yang sudah reot. Ia menatap ke atap yang penuh dengan
jelaga, kemudian ke tembok yang berwarna pudar kusam. “ Assalamu’alaikum” aku,
berdiri sambil mengucapkan salam di teras Mak Dimah. “ Waa’la ikumsalam” Jawab
Mak Dimah. Mak Dimah bangkit dan menemuiku. “ Sini masuk Rum, kamu hanya
sendiri kesini? “ Iya Mak. Mak tidak lupakan sama janji Mak tadi malam?”.
“ Tidak Rum, Emak selalu ingat akan janji Emak. “ Kalau begitu, ayolah mak
ajari aku menari, aku sudak tidak sabar!”. Mak Dimah masuk ke sebuah kamar
kecil dimana ia meletakkan semua peralatan Sintren. Ia keluar membawa selendang
dan meletakkannya di atas meja. “ Arum, untuk menari Sintren itu tidak semudah
yang kamu kira nduk. Kamu harus sabar dan tekun. Rasakan alunan nada-nada
gamelan dengan penuh perasaan.” Mendengarkan ucapan Mak Dimah aku menjadi lebih
semangat untuk berlatih Tari Sintren. Langkah demi langkah Mak Dimah tunjukan
kepadaku. Mataku terus melihat setiap gerakan yang Mak Dimah lakukan.tangan dan
kakiku seolah tak bisa berhenti meniru gerak gerik Mak Dimah yang sudah sangat
mahir itu. Kuakui menari Sintren memang tidak mudah, tapi aku yakin aku bisa menari
dengan elok seperti penari-penari itu.
Hari sudah sore, aku pamit pulang ke Mak
Dimah, karena seperti biasa aku harus membantu Emak mencari kayu bakar dan ubi.
“ Darimana saja kau Arum, dari tadi Emak mencarimu” Kata Mbak Endah seperti
sedikit kesal kepadaku. Aku langsung masuk rumah dan mencari Emak, rupanya Emak
sudah pergi ke ladang. Aku bergegas menuju ke ladang biasa tempatku dan Emak
mencari kayu bakar. Disana aku tidak berjumpa dengan Emak, namun aku tetap
mencari kayu bakar dan ubi untuk makan malam. Akhirnya kayu yang aku kumpulkan
sudah lumayan banyak, dan ubi yang ku dapat juga sudah cukup untuk makan malam
nanti. Aku memutuskan untuk pulang. Ternyata sesampainya aku dirumah, Emak ada
di rumah. Pantas saja aku tidak berjumpa dengan Emak di ladang “ Mak,
darimana?” Tanyaku. “ Emak, dari tadi di rumah. Kepala Mak sakit Rum, jadi Emak
tidak bisa ikut ke ladang. “ Emak terlihat lemas dan pucat. “ Iya Mak, Emak
istirahat saja dirumah. Kemana Mbak Endah Mak?” tanyaku sambil melihat di
sekeliling rumah.” “ Entahlah, Emak juga tidak tahu.”
Mbak Endah memang selalu dimanja oleh Bapak
dan Emak. Mungkin karena Mbak Endah lebih cantik dariku. Sementara, aku selalu
diejek oleh kawan-kawan di kampung maupun sekolahku dengan panggilan sireng dan
kriwil.Aku berusaha sabar menerima ejekan dan cemoohan dari
kawan-kawanku. Meskipun
Emak dan Bapak terkadang juga pilih
kasih denganku, karena tubuhku yang ceking, rambutku yang kriwil, dan kulitku
yang gelap. Rasa sayang Emak dan Bapak juga berbeda. Mereka lebih
menyayangi Mbak Endah daripada aku. Ditambah dengan sikap Mbak Endah yang
sering bermalas-malasan, membuatku sedikit kesal dengannya. Tapi aku tetap
saying dengan Mbak Endah.
Aku tetap merahasiakan tentang latihanku
bersama Mak Dimah setiap pulang sekolah aku berlatih bersama Mak Dimah. Aku
menganggap Mak Dimah seperti Emakku sendiri. Ia dengan sabar melatihku. Ucapan
Mak Dimah juga mampu menyemangatiku untuk rajin belajar. Menyalip teman-teman
dikelasku yang suka mengejekku. Cukup mengagetkan guru-guru, teman-teman di
sekolah, orang-orang kampung, bahkan Emak dan Bapak terheran-heran. Mereka
seolah tidak bisa percaya saat aku mendapat rangking pertama pada hasil laporan
kenaikan kelas dua SMP.
Tak hanya itu, ucapan Mak Dimah juga mampu
merendam gejolak jiwaku yang selama ini sering iri karena perbedaan fisik yang
terlalu mencolok antara aku dan Mbak Endah. Namun aku sadar bahwa setiap
makhluk ciptaan Tuhan mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Aku
menganggap kekuranganku ini adalah sebuah kelebihan yang ada pada diriku.
Seiring berjalannya waktu, aku mulai
menguasai gerakan-gerakan yang diajarkan Mak Dimah. Aku lebih dekat dengan Mak
Dimah, aku merasa nyaman di bimbingan Mak Dimah.
Suatu ketika aku hendak kerumah Mak
Dimah. “ Mau kemana Rum?” tanya Emak. Aku menjawab jujur kepada Emak, bahwa aku
mau ke rumah Mak Dimah. “ Mau apa kau ke rumah Mak Dimah?”. “ Tadi aku
dipanggil Mak Dimah suruh kesana.” Jawabku dengan sedikit ragu dan aku telah berbohong kepada Emak.
Sore itu benar-benar dingin, angin-angin
senja yang berhembus membuatku terlelap dalam dinginnya sore ini. Entah mengapa
sudah dari siang hujan tak henti juga. Hujan
lebat mengiringi sore yang berlabuh pada senja hari yang muram. Jalanan basah
dan becek bercampuran dengan liatnya lumpur yang menjadikan jalanan kampung
sulit untuk di lalui. “ Aduh hujannya deras sekali Mak Dimah menengok ke kaca
jendela, dan terdengar bunyi petir. “ Tidak apa-apa. Nanti juga reda,” “ Aku
takut tidak bisa kembali ke rumah, apa jadinya nanti pasti seisi rumah
mengamukku.”
Emak datang menjemputku. Ia membawa
serta payung berwarna merah muda yang belum sempat ia buka untuk memayungi
tubuhnya. Tok...tok....tok... suara ketukan pintu terdengar. Mak Dimah bergegas
membukakan pintu. Ketika Mak Dimah membuka pintu terlihat Emak menggigil
kedinginan. Bajunya basah kuyup.
“
Emak! Kenapa bisa basah kuyup gini?” Aku terkejut melihat Emak.
“
Emak cemas denganmu Rum! Pulanglah, bapakmu juga sudah menunggumu!
“
Ndak mau, aku mau latihan menari
bersama Mak Dimah.”
“
Pulang yuk Rum!. Kalau kau tidak pulang Bapakmu akan
marah!” Akhirnya
aku menuruti perintah Emak untuk segera pulang.
Ternyata benar, sesampai dirumah Bapak
memarahiku. “Darimana saja kau ? Hujan-hujan gini kelayapan!” “Aku
habis dari rumah Mak Dimah Pak.” Jawabku dengan suara pelan. “ Untuk apa kau
kesana?” “ Aku latihan tari disana” Tiba-tiba mata bapak seolah menatapku
dengan tajam. “Kenapa
kau tidak pernah bilang, kalau kau ikut latihan tari di rumah Mak Dimah? Bapak
hanya ingin kamu fokus sekolah, dan jangan ikut yang aneh-aneh. Untuk apa kau mengikuti latihan tari, buang-buang waktu saja!” Muka
bapak memerah,tak terlihat sedikit senyum kecil di wajah Bapak. Ia
tampak muram
dan suasana rumah menjadi tegang. Emak dan Mbak Endah juga seperti terbungkam
tidak berbicara sepatah kata apapun. “Tapi Pak,
aku ingin bisa seperti mereka yang mahir menari.” “Bapak
tidak suka kau menjadi penari. Jangan
membantah perintah bapak!” Ucap
bapak dengan nada tinggi.
Air
mataku mengalir dan membasahi pipi. Kenapa Bapak tega melarang ku untuk menari.
Apakah menjadi penari itu salah?” Hatiku seperti di hancurkan berkeping-keping.
Ingin rasanya aku berteriak, melampiaskan kekecewaanku.Mengapa apa yang aku
lakukan selalu salah dimata Bapakku, sedangkan Mbak Endah selalu benar, dan Mbak
Endah lah yang selalu dimanja.
Sebentar lagi sekolahku akan
mengikuti lomba Pekan Seni dan Olahraga tingkat SMP se-Kabupaten. Seperti biasa
sekolahku ikut berpartisipasi dalam lomba tersebut. Meskipun sekolahku jarang
menyabet gelar juara.Guruku mencari siswa yang mahir menari untuk mengikuti
lomba tari, namun sayangnya tidak satupun siswa yang berbakat dan berminat
mengikuti lomba tari. Tiba-tiba saja, Pukat teman satu kelasku berbicara kepada
guruku bahwa aku sering mengikuti latihan tari di rumah Mak Dimah. Entah,
bagaimana ia bisa tahu bahwa aku sering latihan. Apa mungkin Mak Dimah yang
memberitahunya. Guruku menyuruhku latihan tari bersamanya sepulang sekolah.
Hatiku bimbang, diantara dua pilihan. Apa aku harus ikut latihan tersebut? Tapi
aku masih ingat benar ketika Bapak memarahiku gara-gara aku latihan menari di
rumah Mak Dimah. Aku tidak mau kejadian itu terulang lagi. Tapi
kapan lagi aku mendapatkan kesempatan untuk mengikuti lomba menari.
Bel berbunyi, tanda waktunya pulang.
Kulihat Bu Eni menghampiriku “ Ayo, Rum kita ke aula”.Ajak Bu Eni. Sebenarnya aku ragu, tapi kakiku melangkah mengikuti
Bu Eni. Bu Eni membimbingku latihan menari. “ Ingat Rum, persiapan kita hanya satu
minggu. Minggu depan kau sudah lomba.” Kata Bu Eni. Aku hanya mengangguk.
Meskipun
Bapak dan Emakku tidak mengijinkan aku menari, tetapi aku tetap ingin menari.
Mak Dimah sudah mengetahui kalau aku sebentar lagi akan lomba menari. “ Pada
saatnya nanti kau akan menjadi penari yang hebat, percayalah.” Ucap Mak Dimah. Hatiku terharu mendengar ucapan Mak Dimah yang selalu menyemagatiku.
Ucapan itu selalu terngiang - ngiang
ditelingaku, “Pada malam bulan purnama ketiga puluh tujuh ini aku
berjanji Mak, aku akan menjadi kebanggaanmu. Semua yang telah kau ajarkan
padaku, akan ku jadikan bekal meraih impianku !” Mak Dimah memelukku dan Ia tak
mampu menahan air matanya. Itu yang memotivasi diriku untuk tetap berjuang
walau banyak rintangan menghadang. Semua petuah-petuah dari Mak Dimah akan
selalu ku ingat.
Esok harinya lombapun dimulai. Aku merasa
kurang percaya diri, namun aku harus yakin bahwa aku bisa. Demi Emak dan Bapak,
Mak Dimah dan demi nama baik sekolahku. Aku mencoba menari seelok mungkin di
atas panggung dan di hadapan para dewan juri. Aku meniru gaya penari – penari Sintren
yang lemah gemulai lembut derana. Berlenggak – lenggok penuh arti. Menjadi
penari titisan budaya. Dengan besutan selendang sutra yang menjadi simbol
kelembutan hati dan perilaku.
Akhirnya setelah lomba tari selesai, kini
tinggal pengumuman kejuaran. Aku sudah tidak sabar namaku dipanggil dan anik ke
panggung. “Baiklah para
hadirin dan peserta lomba menari yang berbahagia kami akan mengumumkan juara 1,
2 dan 3. Harap yang kami panggil naik ke panggung
Juara 3 diraih
oleh Anisa dari SMP Pancasila, selanjutnya,
Juara 2 diraih
oleh Ratna Al Fitri dari SMP N 3 Pekalongan.”
Harapanku pupus, ternyata posisi juara
2 & 3 sudah di duduki orang lain. Kini tinggal juara pertama yang aku
ditunggu. Jantungku berdebar-debar, kakiku gemetaran, dan ekspresi wajahku
seperti orang yang sangat tegang. “ Dan juara pertamanya adalah . . . . . Arum Sukmawati dari SMP N 8 Pekalongan
!” Aku sangat senang. Aku tidak
menyangka bahwa aku telah berhasil menyabet juara pertama. Akhirnya do’a ku terkabul
juga. “Alhamdulillahirabil a’alamin”. Terima kasih Ya Allah Kau telah
mengabulkan do’a ku.
Ketika
aku pulang, aku sudah tidak sabar memberikan kabar bahagia ini kepada Mak
Dimah. Tiba – tiba aku terkejut melihat bendera putih setengah tiang berkibar
di depan rumah Mak Dimah. Kulihat orang – orang berdatangan.
“Bulik, siapa yang meninggal ?”
“Mak Dimah telah dipanggil
Yang Maha Kuasa,” Jawab Bulik Nur
dengan mata berkaca-kaca. Bulik
Nur adalah keponakan Mak Dimah yang tinggal satu rumah dengannya. “Inna lillahi ...
Astaghfirullah Hal Aldzim! Ada apa dengan Mak Dimah
Bulik? Kenapa Ia bisa meninggal dunia?” Tanyaku.
“Mak
Dimah meninggal karena serangan jantung nduk, sewaktu Bulik pulang dari pasar Mak Dimah sedang
sehat-sehat saja. Kemudian Mak Dimah minta dibuatkan secangkir teh hangat.
Ketika Bulik selesai membuat teh, Mak Dimah sudah tidak bernafas”
Aku berlari masuk kerumah Mak Dimah, aku tak percaya Mak
Dimah secepat ini meninggalkanku, padahal baru tadi malam ia bersamaku. Aku
tidak meneteskan air mata, aku mencoba sabar dan
tegar mengikhlaskan kepergian Mak Dimah. Mungkin Tuhan sangat sayang kepada Mak
Dimah. Selamat jalan Mak Dimah, Semoga Mak Dimah bahagia di sisi-Nya. Aku
berjanji Mak, aku akan meneruskan perjuanganmu sebagai seorang penari. Aku tidak akan melupakan jasa – jasa
Mak Dimah.
Sepulang dari pemakaman Mak Dimah, aku
berniat untuk memberitahu Bapak dan Emak tentang lomba menariku. Aku tak tahu
apa mereka akan menghukumku atau bahkan menggantungku hidup-hidup. Tapi lebih
baik aku jujur kepada mereka daripada aku menyembunyikan ini. Semua aku
serahkan kepada Yang Diatas. Jika Emak dan Bapak menghukumku aku tidak masalah,
aku siap menerima semua resiko.Aku berharap mereka mau mema’afkan aku atas
kesalahanku melanggar perintah mereka. Tapi aku lakukan ini demi nama baik
sekolahku, seharusnya mereka juga turut bangga denganku, tapi entahlah. Ketika aku
berbicara kepada Emak dan Bapak bahwa aku telah memenangkan lomba menari aku
menunjukkan piagam penghargaan yang aku peroleh. “ Mak, aku mau menunjukkan
sesuatu kepada Emak.” “Apa Rum,?” Jawab
Emak.
“ Mak aku telah berhasil menjuarai
lomba menari, aku tahu Emak dan Bapak melarangku menari, tapi aku lakukan ini
atas perintah guruku Mak, sungguh Bu Eni lah yang memilihku untuk mewakili
sekolah. Aku siap menerima hukuman dari Emak dan Bapak.”
Mendengar hal itu Emakku tersenyum,
seolah tak ada rasa kesal di wajah Emak. “Emak tidak mau mema’afkan aku ya?”
Aku memang salah Mak, sungguh aku minta ampun sama Emak!” Air mataku berlinang
dan aku sujud di hadapan Emakku. Emak membangunkan diriku, Emak mencium keningku serta memelukku erat sekali.
Dan berkata “Duh, Gusti Kang Maha Welas Asih, matur
nuwun Gusti.”
Entah mengapa Emak berkata demikian dan tidak
memarahiku. “ Emak tidak marah?” “Kenapa Emak harus marah dengan mu? Emak
justru bersyukur dan bangga kau anak Emak bisa menjunjung nama baik sekolahmu, inilah
yang Emak harapkan Emak bangga punya anak sepertimu!.
Aku seolah terkejut dan tidak
percaya. Bapak dan Emak bangga denganku, ku kira mereka akan memarahiku atau
mencaci maki aku lagi. Emak dan Bapak menjadi sayang kepadaku. Mereka menjadi
lembut dan tidak memarahiku lagi. Aku berharap aku bisa selalu membanggakan
mereka. Ternyata mereka sudah sadar bahwa menari adalah bakat yang
bakat itu terpendam dan sekarang ini telah tumbuh berkat Mak Dimah. Aku akan
menepati janjiku. Janji purnama ketiga puluh tujuh.
