Posted by : Unknown Saturday, 14 March 2015




Suara azan shubuh telah berkumandang membangunkanku yang sedang berbaring diatas ranjang. Aku segera bergegas mengambil air wudhu. Rupanya Emak dan Bapak sudah pergi ke surau. Di rumah hanya ada aku dan Mbak Endah. Mbak Endah sedang tertidur pulas di bawah selimutnya.  “ Ayo bangun mbak, sudah azan shubuh tu ”. Bujukku sambil menggerak-gerakan tubuh Mbak Endah. “ Ah, nanti ! Masih dingin banget !” Seperti biasa Mbak Endah memang malas untuk bangun pagi apalagi untuk shalat. Ia lebih mementingkan tidur, walaupun akhirnya ia bangun kesiangan.
           Embun dan kabut masih menutupi hijaunya dedaunan. Kicauan burung yang merdu terdengar dari ranting pepohonan. Ayam jago pun tak mau kalah berkokok ditambah udara pagi yang segar menyempurnakan suasana pagi. Di ufuk timur sang surya mulai menampakkan sinarnya yang menghangatkan jiwa. Para warga memulai aktivitas mereka, ada yang siap pergi ke sawah, ada yang sibuk menata barang dagangan yang akan dijual di pasar, ku lihat bapak dan pamanku sudah siap pergi menjala ikan di laut. Menjadi seorang nelayan adalah mata pencaharian bapakku. Meskipun hanya menjadi seorang nelayan yang berpenghasilan tak seberapa, namun bapak tetap bekerja keras membanting tulang untuk menghidupi keluarga. Kami tidak pernah mengeluh dengan keadaan di keluarga kami yang hanya hidup serba pas-pasan. Aku juga tidak malu dengan kondisiku yang di lahirkan di keluarga tidak punya, dan serba kekurangan.
     Waktu menunjukkan pukul 06.30. Aku segera berangkat sekolah. Aku berangkat sekolah dengan jalan kaki yang jaraknya sekitar 5 kilometer. Aku belum sempat sarapan, karena Emak belum memasak dan persediaan beras di rumah kami juga sudah habis. Aku sudah biasa tidak sarapan, walaupun perutku keroncongan tapi aku tahan. Hanya ada sepotong ubi rebus yang kubawa untuk mengganjal perut ketika jam istirahat.
                                                                     ***
Deburan ombak mendesir di pasir nirma. Angin sepoi membelai rambutku. Di atas sana dewi malam mulai menampakkan sinarnya yang penuh. Malam ini tepat bulan purnama. Di desa ku akan diadakan upacara bersih desa. Di sela-sela deburan, gamelan yang di tabuh dan riuh suara yang menarik hati. Di lapangan desa sedang diadakan pagelaran Tari Sintren. Aku tak sabar ingin melihatnya, aku berlari kencang dengan wajah riang menyenandungkan nada suka-suka. Berlomba dengan semilir angin yang dingin.
     Sesampai disana di sekeliling lapangan sudah di penuhi warga desa. Seolah tak mau tertinggal aku memaksa untuk melihat di barisan paling depan dan menyelinap di sela-sela warga. Lantunan tembang-tembang jawa, dan harmonisasi iringan musik gamelan yang di tabuh paraniyaga. Setelah gamelan ditabuh para sinden menyanyi. Gending gamelan terus beralun berpadu dengan tembang-tembang jawa yang syahdu. Para penari menari di bawah gelyas purnama.Para warga yang bersorak sorai menyaksikan penampilan para penari yang cantik dan dengan apiknya membawakan Tari Sintren. Syahdu. Pentas sintren malam itu untukku sungguh syahdu. Aku ternganga melihatnya begitu mempesona. Aku ingin menjadi seperti mereka yang lincah menari. Sepertinya menarik juga menjadi seorang penari.
     Selesai pagelaran, aku  menemui Mak Dimah. Mak Dimah adalah ketua grup Sintren. “Mak, aku ingin bisa menari seperti mereka. Emak hebat bisa melatih Tari Sintren. Ajari aku ya Mak!” Pinta ku kepada Mak Dimah. “ Baik, apa kamu sungguh-sungguh ?” “ Iya Mak, tapi Mak Dimah janji ya mau melatihku dan membuatku bisa mahir menari”. Mak Dimah hanya tersenyum menatapku sambil menata seperangkat gamelan yang telah selesai dimainkan.
                                                            ***
     Esok harinya akau pergi menemui Mak Dimah. Aku sengaja pergi tak memberitahu Emak dan Bapak. Aku melihat Mak Dimah sedang duduk diatas kursi yang sudah reot. Ia menatap ke atap yang penuh dengan jelaga, kemudian ke tembok yang berwarna pudar kusam. “ Assalamu’alaikum” aku, berdiri sambil mengucapkan salam di teras Mak Dimah. “ Waa’la ikumsalam” Jawab Mak Dimah. Mak Dimah bangkit dan menemuiku. “ Sini masuk Rum, kamu hanya sendiri kesini? “ Iya Mak. Mak tidak lupakan sama janji Mak tadi malam?”. “ Tidak Rum, Emak selalu ingat akan janji Emak. “ Kalau begitu, ayolah mak ajari aku menari, aku sudak tidak sabar!”. Mak Dimah masuk ke sebuah kamar kecil dimana ia meletakkan semua peralatan Sintren. Ia keluar membawa selendang dan meletakkannya di atas meja. “ Arum, untuk menari Sintren itu tidak semudah yang kamu kira nduk. Kamu harus sabar dan tekun. Rasakan alunan nada-nada gamelan dengan penuh perasaan.” Mendengarkan ucapan Mak Dimah aku menjadi lebih semangat untuk berlatih Tari Sintren. Langkah demi langkah Mak Dimah tunjukan kepadaku. Mataku terus melihat setiap gerakan yang Mak Dimah lakukan.tangan dan kakiku seolah tak bisa berhenti meniru gerak gerik Mak Dimah yang sudah sangat mahir itu. Kuakui menari Sintren memang tidak mudah, tapi aku yakin aku bisa menari dengan elok seperti penari-penari itu.
     Hari sudah sore, aku pamit pulang ke Mak Dimah, karena seperti biasa aku harus membantu Emak mencari kayu bakar dan ubi. “ Darimana saja kau Arum, dari tadi Emak mencarimu” Kata Mbak Endah seperti sedikit kesal kepadaku. Aku langsung masuk rumah dan mencari Emak, rupanya Emak sudah pergi ke ladang. Aku bergegas menuju ke ladang biasa tempatku dan Emak mencari kayu bakar. Disana aku tidak berjumpa dengan Emak, namun aku tetap mencari kayu bakar dan ubi untuk makan malam. Akhirnya kayu yang aku kumpulkan sudah lumayan banyak, dan ubi yang ku dapat juga sudah cukup untuk makan malam nanti. Aku memutuskan untuk pulang. Ternyata sesampainya aku dirumah, Emak ada di rumah. Pantas saja aku tidak berjumpa dengan Emak di ladang “ Mak, darimana?” Tanyaku. “ Emak, dari tadi di rumah. Kepala Mak sakit Rum, jadi Emak tidak bisa ikut ke ladang. “ Emak terlihat lemas dan pucat. “ Iya Mak, Emak istirahat saja dirumah. Kemana Mbak Endah Mak?” tanyaku sambil melihat di sekeliling rumah.” “ Entahlah, Emak juga tidak tahu.”
     Mbak Endah memang selalu dimanja oleh Bapak dan Emak. Mungkin karena Mbak Endah lebih cantik dariku. Sementara, aku selalu diejek oleh kawan-kawan di kampung maupun sekolahku dengan panggilan sireng dan kriwil.Aku berusaha sabar menerima ejekan dan cemoohan dari kawan-kawanku. Meskipun Emak dan Bapak terkadang juga pilih kasih denganku, karena tubuhku yang ceking, rambutku yang kriwil, dan kulitku yang gelap. Rasa sayang Emak dan Bapak juga berbeda. Mereka lebih menyayangi Mbak Endah daripada aku. Ditambah dengan sikap Mbak Endah yang sering bermalas-malasan, membuatku sedikit kesal dengannya. Tapi aku tetap saying dengan Mbak Endah.
     Aku tetap merahasiakan tentang latihanku bersama Mak Dimah setiap pulang sekolah aku berlatih bersama Mak Dimah. Aku menganggap Mak Dimah seperti Emakku sendiri. Ia dengan sabar melatihku. Ucapan Mak Dimah juga mampu menyemangatiku untuk rajin belajar. Menyalip teman-teman dikelasku yang suka mengejekku. Cukup mengagetkan guru-guru, teman-teman di sekolah, orang-orang kampung, bahkan Emak dan Bapak terheran-heran. Mereka seolah tidak bisa percaya saat aku mendapat rangking pertama pada hasil laporan kenaikan kelas dua SMP.
     Tak hanya itu, ucapan Mak Dimah juga mampu merendam gejolak jiwaku yang selama ini sering iri karena perbedaan fisik yang terlalu mencolok antara aku dan Mbak Endah. Namun aku sadar bahwa setiap makhluk ciptaan Tuhan mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Aku menganggap kekuranganku ini adalah sebuah kelebihan yang ada pada diriku.
     Seiring berjalannya waktu, aku mulai menguasai gerakan-gerakan yang diajarkan Mak Dimah. Aku lebih dekat dengan Mak Dimah, aku merasa nyaman di bimbingan Mak Dimah.
        Suatu ketika aku hendak kerumah Mak Dimah. “ Mau kemana Rum?” tanya Emak. Aku menjawab jujur kepada Emak, bahwa aku mau ke rumah Mak Dimah. “ Mau apa kau ke rumah Mak Dimah?”. “ Tadi aku dipanggil Mak Dimah suruh kesana.” Jawabku dengan sedikit ragu dan aku telah berbohong kepada Emak.
        Sore itu benar-benar dingin, angin-angin senja yang berhembus membuatku terlelap dalam dinginnya sore ini. Entah mengapa sudah dari siang hujan tak henti juga. Hujan lebat mengiringi sore yang berlabuh pada senja hari yang muram. Jalanan basah dan becek bercampuran dengan liatnya lumpur yang menjadikan jalanan kampung sulit untuk di lalui. “ Aduh hujannya deras sekali Mak Dimah menengok ke kaca jendela, dan terdengar bunyi petir. “ Tidak apa-apa. Nanti juga reda,” “ Aku takut tidak bisa kembali ke rumah, apa jadinya nanti pasti seisi rumah mengamukku.”
        Emak datang menjemputku. Ia membawa serta payung berwarna merah muda yang belum sempat ia buka untuk memayungi tubuhnya. Tok...tok....tok... suara ketukan pintu terdengar. Mak Dimah bergegas membukakan pintu. Ketika Mak Dimah membuka pintu terlihat Emak menggigil kedinginan. Bajunya basah kuyup.
“ Emak! Kenapa bisa basah kuyup gini?” Aku terkejut melihat Emak.
“ Emak cemas denganmu Rum! Pulanglah, bapakmu juga sudah menunggumu!
“ Ndak mau, aku mau latihan menari bersama Mak Dimah.”
“ Pulang yuk Rum!. Kalau kau tidak pulang Bapakmu akan marah!”  Akhirnya aku menuruti perintah Emak untuk segera pulang.
            Ternyata benar, sesampai dirumah Bapak memarahiku. “Darimana saja kau ? Hujan-hujan gini kelayapan!” “Aku habis dari rumah Mak Dimah Pak.” Jawabku dengan suara pelan. “ Untuk apa kau kesana?” “ Aku latihan tari disana” Tiba-tiba mata bapak seolah menatapku dengan tajam.       “Kenapa kau tidak pernah bilang, kalau kau ikut latihan tari di rumah Mak Dimah? Bapak hanya ingin kamu fokus sekolah, dan jangan ikut yang aneh-aneh. Untuk apa kau mengikuti latihan tari, buang-buang waktu saja!” Muka bapak memerah,tak terlihat sedikit senyum kecil di wajah Bapak. Ia tampak muram dan suasana rumah menjadi tegang. Emak dan Mbak Endah juga seperti terbungkam tidak berbicara sepatah kata apapun. “Tapi Pak, aku ingin bisa seperti mereka yang mahir menari.”  “Bapak tidak suka kau menjadi penari. Jangan membantah perintah bapak!” Ucap bapak dengan nada tinggi.
           Air mataku mengalir dan membasahi pipi. Kenapa Bapak tega melarang ku untuk menari. Apakah menjadi penari itu salah?” Hatiku seperti di hancurkan berkeping-keping. Ingin rasanya aku berteriak, melampiaskan kekecewaanku.Mengapa apa yang aku lakukan selalu salah dimata Bapakku, sedangkan Mbak Endah selalu benar, dan Mbak Endah lah yang selalu dimanja.
           Sebentar lagi sekolahku akan mengikuti lomba Pekan Seni dan Olahraga tingkat SMP se-Kabupaten. Seperti biasa sekolahku ikut berpartisipasi dalam lomba tersebut. Meskipun sekolahku jarang menyabet gelar juara.Guruku mencari siswa yang mahir menari untuk mengikuti lomba tari, namun sayangnya tidak satupun siswa yang berbakat dan berminat mengikuti lomba tari. Tiba-tiba saja, Pukat teman satu kelasku berbicara kepada guruku bahwa aku sering mengikuti latihan tari di rumah Mak Dimah. Entah, bagaimana ia bisa tahu bahwa aku sering latihan. Apa mungkin Mak Dimah yang memberitahunya. Guruku menyuruhku latihan tari bersamanya sepulang sekolah. Hatiku bimbang, diantara dua pilihan. Apa aku harus ikut latihan tersebut? Tapi aku masih ingat benar ketika Bapak memarahiku gara-gara aku latihan menari di rumah Mak Dimah. Aku tidak mau kejadian itu terulang lagi. Tapi kapan lagi aku mendapatkan kesempatan untuk mengikuti lomba menari.
         Bel berbunyi, tanda waktunya pulang. Kulihat Bu Eni menghampiriku “ Ayo, Rum kita ke aula”.Ajak Bu Eni. Sebenarnya aku ragu, tapi kakiku melangkah mengikuti Bu Eni. Bu Eni membimbingku latihan menari. “ Ingat Rum, persiapan kita hanya satu minggu. Minggu depan kau sudah lomba.” Kata Bu Eni. Aku hanya mengangguk.
           Meskipun Bapak dan Emakku tidak mengijinkan aku menari, tetapi aku tetap ingin menari. Mak Dimah sudah mengetahui kalau aku sebentar lagi akan lomba menari. “ Pada saatnya nanti kau akan menjadi penari yang hebat, percayalah.” Ucap Mak Dimah. Hatiku terharu mendengar ucapan Mak Dimah yang selalu menyemagatiku. Ucapan itu selalu terngiang  - ngiang ditelingaku, “Pada malam bulan purnama ketiga puluh tujuh ini aku berjanji Mak, aku akan menjadi kebanggaanmu. Semua yang telah kau ajarkan padaku, akan ku jadikan bekal meraih impianku !” Mak Dimah memelukku dan Ia tak mampu menahan air matanya. Itu yang memotivasi diriku untuk tetap berjuang walau banyak rintangan menghadang. Semua petuah-petuah dari Mak Dimah akan selalu ku ingat.
     Esok harinya lombapun dimulai. Aku merasa kurang percaya diri, namun aku harus yakin bahwa aku bisa. Demi Emak dan Bapak, Mak Dimah dan demi nama baik sekolahku. Aku mencoba menari seelok mungkin di atas panggung dan di hadapan para dewan juri. Aku meniru gaya penari – penari Sintren yang lemah gemulai lembut derana.  Berlenggak – lenggok penuh arti. Menjadi penari titisan budaya. Dengan besutan selendang sutra yang menjadi simbol kelembutan hati dan perilaku.
     Akhirnya setelah lomba tari selesai, kini tinggal pengumuman kejuaran. Aku sudah tidak sabar namaku dipanggil dan anik ke panggung. “Baiklah para hadirin dan peserta lomba menari yang berbahagia kami akan mengumumkan juara 1, 2 dan 3. Harap yang kami panggil naik ke panggung
Juara 3 diraih oleh Anisa dari SMP Pancasila, selanjutnya,
Juara 2 diraih oleh Ratna Al Fitri dari SMP N 3 Pekalongan.”
         Harapanku pupus, ternyata posisi juara 2 & 3 sudah di duduki orang lain. Kini tinggal juara pertama yang aku ditunggu. Jantungku berdebar-debar, kakiku gemetaran, dan ekspresi wajahku seperti orang yang sangat tegang. “ Dan juara pertamanya adalah  . . . . . Arum Sukmawati dari SMP N 8 Pekalongan !”  Aku sangat senang. Aku tidak menyangka bahwa aku telah berhasil menyabet juara pertama. Akhirnya do’a ku terkabul juga. “Alhamdulillahirabil a’alamin”. Terima kasih Ya Allah Kau telah mengabulkan do’a ku.
         Ketika aku pulang, aku sudah tidak sabar memberikan kabar bahagia ini kepada Mak Dimah. Tiba – tiba aku terkejut melihat bendera putih setengah tiang berkibar di depan rumah Mak Dimah. Kulihat orang – orang berdatangan.
           “Bulik, siapa yang meninggal ?”
“Mak Dimah telah dipanggil Yang Maha Kuasa,” Jawab Bulik Nur dengan mata berkaca-kaca. Bulik Nur adalah keponakan Mak Dimah yang tinggal satu rumah dengannya.                                                                                                         “Inna lillahi ... Astaghfirullah Hal Aldzim! Ada apa dengan Mak Dimah Bulik? Kenapa Ia bisa meninggal dunia?” Tanyaku.
         “Mak Dimah meninggal karena serangan jantung nduk, sewaktu Bulik pulang dari pasar Mak Dimah sedang sehat-sehat saja. Kemudian Mak Dimah minta dibuatkan secangkir teh hangat. Ketika Bulik selesai membuat teh, Mak Dimah sudah tidak bernafas”
             Aku berlari masuk kerumah Mak Dimah, aku tak percaya Mak Dimah secepat ini meninggalkanku, padahal baru tadi malam ia bersamaku. Aku tidak meneteskan air mata, aku mencoba sabar dan tegar mengikhlaskan kepergian Mak Dimah. Mungkin Tuhan sangat sayang kepada Mak Dimah. Selamat jalan Mak Dimah, Semoga Mak Dimah bahagia di sisi-Nya. Aku berjanji Mak, aku akan meneruskan perjuanganmu sebagai seorang penari. Aku tidak akan melupakan jasa – jasa Mak Dimah.
           Sepulang dari pemakaman Mak Dimah, aku berniat untuk memberitahu Bapak dan Emak tentang lomba menariku. Aku tak tahu apa mereka akan menghukumku atau bahkan menggantungku hidup-hidup. Tapi lebih baik aku jujur kepada mereka daripada aku menyembunyikan ini. Semua aku serahkan kepada Yang Diatas. Jika Emak dan Bapak menghukumku aku tidak masalah, aku siap menerima semua resiko.Aku berharap mereka mau mema’afkan aku atas kesalahanku melanggar perintah mereka. Tapi aku lakukan ini demi nama baik sekolahku, seharusnya mereka juga turut bangga denganku, tapi entahlah. Ketika aku berbicara kepada Emak dan Bapak bahwa aku telah memenangkan lomba menari aku menunjukkan piagam penghargaan yang aku peroleh. “ Mak, aku mau menunjukkan sesuatu kepada Emak.”  “Apa Rum,?” Jawab Emak.  
        “ Mak aku telah berhasil menjuarai lomba menari, aku tahu Emak dan Bapak melarangku menari, tapi aku lakukan ini atas perintah guruku Mak, sungguh Bu Eni lah yang memilihku untuk mewakili sekolah. Aku siap menerima hukuman dari Emak dan Bapak.”
          Mendengar hal itu Emakku tersenyum, seolah tak ada rasa kesal di wajah Emak. “Emak tidak mau mema’afkan aku ya?” Aku memang salah Mak, sungguh aku minta ampun sama Emak!” Air mataku berlinang dan aku sujud di hadapan Emakku. Emak membangunkan diriku, Emak  mencium keningku serta memelukku erat sekali. Dan berkata “Duh, Gusti Kang Maha Welas Asih, matur nuwun Gusti.”
                Entah  mengapa Emak berkata demikian dan tidak memarahiku. “ Emak tidak marah?” “Kenapa Emak harus marah dengan mu? Emak justru bersyukur dan bangga kau anak Emak bisa menjunjung nama baik sekolahmu, inilah yang Emak harapkan Emak bangga punya anak sepertimu!.

              Aku seolah terkejut dan tidak percaya. Bapak dan Emak bangga denganku, ku kira mereka akan memarahiku atau mencaci maki aku lagi. Emak dan Bapak menjadi sayang kepadaku. Mereka menjadi lembut dan tidak memarahiku lagi. Aku berharap aku bisa selalu membanggakan mereka. Ternyata mereka sudah sadar bahwa menari adalah bakat yang bakat itu terpendam dan sekarang ini telah tumbuh berkat Mak Dimah. Aku akan menepati janjiku. Janji purnama ketiga puluh tujuh.    

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © My Blog - Hatsune Miku - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -